zmedia

Pasca Panen Sukses, BUMDes Nasib Maju Bosamo Kembali Tebar 10.000 Bibit Lele

Di tepi kolam-kolam tenang Kepenghuluan Sungai Manasib, Ahad (14/12/2025) menjadi penanda sebuah ikhtiar yang kembali dimulai. Pagi itu, 10.000 bibit ikan lele dilepas perlahan ke dalam air oleh pengurus BUMDes Nasib Maju Bosamo. Bagi sebagian orang, angka itu mungkin sekadar hitungan. Namun bagi desa, ia adalah harapan yang dititipkan, kerja yang dilanjutkan, dan mimpi yang dirawat agar tidak berhenti di satu musim panen.

Penebaran bibit kali ini bukanlah langkah pertama. Ia lahir dari pengalaman, dari proses belajar yang panjang, dan dari keberhasilan sebelumnya ketika BUMDes Nasib Maju Bosamo mampu memanen lebih dari satu ton ikan lele. Panen itu bukan sekadar hasil timbangan, melainkan bukti bahwa desa mampu mengelola potensi sendiri ketika diberi ruang, kepercayaan, dan kemauan untuk bekerja bersama.

BUMDes, dalam konteks ini, bukan hanya lembaga ekonomi. Ia adalah wadah gotong royong yang menjelma menjadi usaha nyata. Kolam-kolam lele menjadi ruang belajar tentang kesabaran—tentang memberi pakan tepat waktu, menjaga kualitas air, dan menunggu dengan tekun hingga hasil bisa dipetik. Semua itu mengajarkan bahwa kemandirian ekonomi tidak lahir dari jalan pintas, melainkan dari proses yang dijalani dengan konsisten.

Keberhasilan panen sebelumnya menjadi pijakan moral sekaligus motivasi. Ia menumbuhkan keyakinan bahwa usaha perikanan bukan sekadar wacana dalam rapat, tetapi benar-benar bisa menjadi sumber penghidupan. Dari sanalah keputusan untuk kembali menebar bibit diambil—sebuah keputusan yang menandai keberlanjutan, bukan euforia sesaat.

Yang menarik, denyut BUMDes Nasib Maju Bosamo juga digerakkan oleh semangat generasi muda desa. Mereka membawa energi, ide, dan keberanian untuk mencoba. Di tangan mereka, kolam lele tidak hanya dipandang sebagai tempat budidaya, tetapi sebagai simbol bahwa desa tidak harus selalu menunggu, melainkan bisa bergerak dan mencipta.

Penebaran 10.000 bibit lele pada Ahad itu adalah pernyataan sikap: bahwa desa memilih untuk terus berjalan. Bahwa keberhasilan kemarin tidak membuat terlena, melainkan menjadi alasan untuk bekerja lebih rapi dan terukur hari ini. Bahwa ekonomi desa bisa tumbuh dari air kolam yang dikelola dengan niat baik dan tanggung jawab bersama.

Jika kelak panen kembali tiba, mungkin hasilnya akan kembali dihitung dalam kilogram dan ton. Namun di balik angka-angka itu, selalu ada cerita tentang kebersamaan, tentang belajar dari pengalaman, dan tentang desa yang perlahan menemukan jalannya sendiri menuju kemandirian. Di Sungai Manasib, lele-lele kecil itu kini berenang membawa harapan—bahwa masa depan desa bisa dibangun, satu kolam demi satu kolam.